Beda Gaya Parenting dengan Pasangan? Kenali Tantangan dan Cara Menghadapinya

Beda gaya parenting dengan pasangan seringkali bikin situasi di rumah menjadi kurang nyaman. Saat ingin memberikan si kecil les musik misalnya, sebenarnya sangat penting bagi kamu untuk mendiskusikan dan mendengar pendapat anak tentang les musik apa yang ingin anak ikuti agar hasilnya maksimal. Tapi mungkin pasangan kamu tidak berpikir hal yang sama, justru berseru “Yang namanya anak kecil ikut arahan orang tuanya, tidak perlu ada diskusi!”

Agar perbedaan pola asuh anak tidak jadi masalah berulang di kemudian hari, penting bagi kamu dan pasangan mengenali  gaya parenting yang diterapkan serta dampaknya. 

Memahami 4 tipe gaya parenting dan ciri-cirinya

 



Berdasarkan hasil penelitian ada 4 gaya parenting yang biasa dilakukan oleh para pasangan orang tua pada anaknya1. Setiap tipe pola asuh ini memiliki dampak berbeda bagi tumbuh kembang anak. Mari cek yang mana gaya parenting  anak versi kamu dan pasangan.

• Otoriter (Authoritarian parenting)

Gaya otoriter akan membentuk anak dengan kedisiplinan tinggi. Ketika anak melanggar sedikit saja peraturan orang tua, maka orang tua akan bereaksi cepat dan memberi hukuman. Komunikasi yang terjalin pun hanya satu arah: orang tua ke anak.
 
Dampaknya, anak akan kesulitan mengungkapkan pendapatnya karena terbiasa diatur dalam segala hal oleh orang tua. Lambat laun, anak akan kehilangan kepercayaan diri karena merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
 

• Permisif (Permissive parenting)

 
“Ya sudahlah, namanya juga anak-anak.”
“Ya sudahlah, tidak perlu dihukum. Toh, anak sudah minta maaf.”
 
Bila kamu sering mengucapkan kalimat di atas, bisa jadi kamu memiliki tipe permisif. Orang tua tipe permisif ini membuat aturan untuk anak tetapi tanpa dibarengi komitmen untuk menegakkan peraturan tersebut. Mereka mudah melemah ketika anak sudah meminta maaf atau merengek.
 
Akibatnya, anak tidak akan belajar dari kesalahan. Aturan yang dibuat tidak melekat kuat. Sehingga seringkali anak-anak dengan orang tua permisif memiliki masalah perilaku karena tidak menghargai otoritas dan peraturan. Meski begitu, anak yang dididik dengan cara permisif cenderung lebih tidak segan untuk berkomunikasi dengan orang tuanya.

• Cuek (Uninvolved parenting) 

Orang tua dengan cara didik yang cuek, memiliki pengetahuan yang sedikit tentang kegiatan anak, apa saja yang disukai anak, apa saja kebutuhan anak dan lainnya. Mereka cenderung tidak mencurahkan banyak waktu dan perhatian untuk mencukupi kebutuhan dasar anak akan kasih sayang. Memang, dengan cara ini sebagian anak terdorong untuk mandiri, tapi kembali lagi sejauh mana kadar ketidakpedulian tersebut.
 
Beberapa penyebab mengapa orang tua cuek adalah karena sibuk pekerjaan, memiliki sifat yang memang cuek atau dulunya dididik dengan cara yang sama. Akibatnya, anak-anak akan merasa jauh dari orangtuanya, kurang diperhatikan, atau suka cari perhatian dengan tingkah yang berlebihan. Untuk jangka panjang, hal ini kemungkinan bisa berakibat lebih buruk.

•   Demokratis (Authoritative parenting)

Orang tua bergaya demokratis umumnya suportif, memiliki kehangatan ketika berinteraksi dengan anak, berusaha memelihara hubungan yang baik dengan anak, dan memberi ruang pada anak untuk belajar bertanggung jawab.
 
Ketika berhubungan dengan peraturan atau tata tertib, orang tua demokratis akan menjelaskan alasan di balik peraturan tersebut. Ketika anak-anak melanggar aturan, mereka akan memberi konsekuensi namun tetap mempertimbangkan pendapat anak.
 
Orang tua demokratis tahu pentingnya menginvestasikan waktu dan tenaga kepada anak demi mencegah masalah perilaku pada anak di kemudian hari. Mereka konsisten menerapkan displin, memberi pujian dan rewards sesuai pencapaian anak.
 
Pola asuh anak tipe demokratis ini dinilai efektif. Menurut penelitian, anak-anak dengan yang dididik dengan cara demokratis akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, nyaman untuk mengungkapkan pendapat, pandai membuat keputusan, meski kadang mereka cenderung lebih keras dalam mengungkapkan pendapat, termasuk pada orangtuanya sendiri.
 

Cara menghadapi perbedaan gaya parenting



Berdasarkan hasil penelitian ada 4 gaya parenting yang biasa dilakukan oleh para pasangan orang tua pada anaknya1. Setiap tipe pola asuh ini memiliki dampak berbeda bagi tumbuh kembang anak. Mari cek yang mana gaya parenting  anak versi kamu dan pasangan. 

•   Otoriter (Authoritarian parenting)

Gaya otoriter akan membentuk anak dengan kedisiplinan tinggi. Ketika anak melanggar sedikit saja peraturan orang tua, maka orang tua akan bereaksi cepat dan memberi hukuman. Komunikasi yang terjalin pun hanya satu arah: orang tua ke anak.
 
Dampaknya, anak akan kesulitan mengungkapkan pendapatnya karena terbiasa diatur dalam segala hal oleh orang tua. Lambat laun, anak akan kehilangan kepercayaan diri karena merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri.

•   Permisif (Permissive parenting)

“Ya sudahlah, namanya juga anak-anak.”
“Ya sudahlah, tidak perlu dihukum. Toh, anak sudah minta maaf.”
 
Bila kamu sering mengucapkan kalimat di atas, bisa jadi kamu memiliki tipe permisif. Orang tua tipe permisif ini membuat aturan untuk anak tetapi tanpa dibarengi komitmen untuk menegakkan peraturan tersebut. Mereka mudah melemah ketika anak sudah meminta maaf atau merengek.
 
Akibatnya, anak tidak akan belajar dari kesalahan. Aturan yang dibuat tidak melekat kuat. Sehingga seringkali anak-anak dengan orang tua permisif memiliki masalah perilaku karena tidak menghargai otoritas dan peraturan. Meski begitu, anak yang dididik dengan cara permisif cenderung lebih tidak segan untuk berkomunikasi dengan orang tuanya.

•   Cuek (Uninvolved parenting) 

Orang tua dengan cara didik yang cuek, memiliki pengetahuan yang sedikit tentang kegiatan anak, apa saja yang disukai anak, apa saja kebutuhan anak dan lainnya. Mereka cenderung tidak mencurahkan banyak waktu dan perhatian untuk mencukupi kebutuhan dasar anak akan kasih sayang. Memang, dengan cara ini sebagian anak terdorong untuk mandiri, tapi kembali lagi sejauh mana kadar ketidakpedulian tersebut.
 
Beberapa penyebab mengapa orang tua cuek adalah karena sibuk pekerjaan, memiliki sifat yang memang cuek atau dulunya dididik dengan cara yang sama. Akibatnya, anak-anak akan merasa jauh dari orangtuanya, kurang diperhatikan, atau suka cari perhatian dengan tingkah yang berlebihan. Untuk jangka panjang, hal ini kemungkinan bisa berakibat lebih buruk.

•   Demokratis (Authoritative parenting)

Orang tua bergaya demokratis umumnya suportif, memiliki kehangatan ketika berinteraksi dengan anak, berusaha memelihara hubungan yang baik dengan anak, dan memberi ruang pada anak untuk belajar bertanggung jawab.
 
Ketika berhubungan dengan peraturan atau tata tertib, orang tua demokratis akan menjelaskan alasan di balik peraturan tersebut. Ketika anak-anak melanggar aturan, mereka akan memberi konsekuensi namun tetap mempertimbangkan pendapat anak.
 
Orang tua demokratis tahu pentingnya menginvestasikan waktu dan tenaga kepada anak demi mencegah masalah perilaku pada anak di kemudian hari. Mereka konsisten menerapkan displin, memberi pujian dan rewards sesuai pencapaian anak.
 
Pola asuh anak tipe demokratis ini dinilai efektif. Menurut penelitian, anak-anak dengan yang dididik dengan cara demokratis akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, nyaman untuk mengungkapkan pendapat, pandai membuat keputusan, meski kadang mereka cenderung lebih keras dalam mengungkapkan pendapat, termasuk pada orangtuanya sendiri.
 

Cara menghadapi perbedaan gaya parenting

 
Kompromikan perbedaan, jangan hanya dipendam karena bisa menimbulkan konflik. Jelaskan bagaimana gaya parenting kamu, beri tahu apa goals kamu untuk anak, dan bersiap pula untuk mendengarnya dari sisi pasangan.
 
Ambillah waktu yang nyaman untuk kamu berdua. Bila memungkinkan, kamu bisa menitipkan anak sementara kepada keluarga sehingga kamu memiliki kebebasan untuk berbicara. Agar lebih nyaman, sajikan teh hangat SariWangi dan camilan favorit untuk menemani momen diskusi berdua membicarakan yang terbaik untuk si kecil. 

•   Luangkan waktu bersama pasangan

Agar komunikasi bersama pasangan semakin lancar, sering-seringlah meluangkan waktu berdua untuk melakukan hobi bersama atau hal menyenangkan lainnya. Tak mesti secara khusus menjadwalkan waktu, hal kecil seperti santai sambil ngeteh bareng bisa jadi salah satu pilihan. Sajikan minuman teh [insert link here] SariWangi kesukaanmu dan pasangan. Dengan komunikasi yang baik, konflik soal pola asuh anak pun akan semakin berkurang.

•   Hindari berdebat di depan anak

Saat kamu sedang mendisiplinkan anak dan pasangan mengintervensi dengan tindakan sebaliknya, rasanya pasti kesal bukan kepalang. Meski begitu, jagalah untuk tidak mendebat pasangan di depan anak. Selain menurunkan wibawa pasangan, kamu juga memberi contoh kepada anak untuk tidak menghormati orang tuanya. Dan bukan tak mungkin, hal ini akan berujung kamu dan pasangan bertengkar di depan anak.
 
Kamu bisa memberi ‘kode’ kepada pasangan, dan setelah selesai menasehati anak, carilah waktu untuk membahas hal ini dengan pasangan.

•   Minta bantuan ahli

Bila perbedaan gaya cara mendidik anak selalu jadi masalah berulang dan tidak ada jalan keluar meski sudah berdiskusi bersama pasangan, tak ada salahnya meminta bantuan ahli agar suasana kondusif dalam keluarga tetap terjaga. Selamat mencoba!
 
Jadi, berbeda bukan berarti tak bisa sejalan, ya. Sama seperti kamu si pecinta es tehSariWangi yang rela sesekali menikmati teh hangat SariWangi sesuai selera pasangan. Demikian pula perbedaaan parenting anak, bisa dikompromikan dan dibicarakan bersama pasangan.
 
 
Referensi:
Amy Morin, LCSW (2019). 4 Types of Parenting Styles and Their Effects on Kids. Diambil dari: https://www.verywellfamily.com/types-of-parenting-styles-1095045 (Diakses 9 Desember 2020)