Cerita Tentang Keluarga yang Sangat Menginspirasi

"Harta yang paling berharga adalah keluarga..." Mungkin penggalan lirik lagu tersebut sudah akrab di telinga Anda. Lirik tersebut adalah soundtrack dari sebuah sinetron berjudul Keluarga Cemara yang menceritakan tentang sebuah keluarga sederhana yang berjuang bersama untuk melewati hidup yang keras. Sama seperti 3 cerita tentang keluarga berikut ini yang mungkin bisa menjadi inspirasi untuk Anda dan keluarga dalam mengatasi berbagai cobaan di kehidupan.

  1. Cerita Tentang Keluarga yang Terpisah Jarak dan Waktu
    Supinah adalah seorang ibu yang tinggal di sebuah desa kecil di Cimahi, Jawa Barat, bersama dengan anak bungsunya, Ariani, yang berusia 8 tahun. Suaminya bekerja merantau di Papua. Sementara anak sulung dan anak keduanya bekerja menjadi TKI di Hong Kong dan Malaysia. Supinah sudah tidak bertemu dengan suami dan kedua anaknya selama 3 tahun terakhir. Ketika suami dan anak-anaknya menyatakan keinginannya untuk pulang, Supinah selalu menjawab, “Tidak usah pulang. Lebih baik uangnya ditabung saja. Kita kan bisa berkomunikasi melalui telepon.” Sebenarnya pedih hati Supinah saat mengatakan hal tersebut. Siapa sih yang tidak rindu dan ingin bertemu dengan suami dan buah hati tercinta? Hari ini adalah ulang tahun Ariani. Supinah sudah sibuk membuat nasi kuning ala kadarnya untuk merayakan ulang tahun si bungsu secara sederhana. Saat sedang menumis masakan di dapur, Supinah memanggil Ariani untuk mengambilkan kecap, “Ani, tolong ambilkan Ibu kecap, Nak.” Tanpa menoleh ke belakang, Supinah menerima kecap yang diberikan oleh Ariani. “Ada lagi yang Ibu butuhkan?” Spontan Supinah menoleh karena itu bukanlah suara Ariani. Itu suara Herman, anak sulungnya yang bekerja di Hong Kong. “Man! Astagfirullah! Benarkah ini kamu, Herman?” Supinah berbalik sambil memegang kedua pipi anaknya. “Iya, Bu. Ini Herman,” jawab Herman sambil memeluk Supinah. Tak lama, seorang wanita muda berparas manis masuk ke dapur sambil menggandeng Ariani, “Assalamualaikum, Ibu. Maaf Devi nggak langsung masuk, habis Ani nggak sabar ingin melihat kadonya, Bu.” “Ya Allah! Herman! Devi! Kalian pulang, Nak,” tangis haru Supinah pecah lantaran rindu yang menggelora di dalam hati kini terobati. Kebahagiaan Supinah semakin lengkap ketika Priyanto, suaminya, datang sore itu. Mereka saling bercengkrama, bertukar cerita satu sama lain, dan menikmati nasi kuning sederhana buatan Supinah. Momen ini adalah kado terindah untuk Ariani dan Supinah. Bagi mereka, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah datang dari harta atau kekayaan, melainkan dari rasa kebersamaan yang hadir saat seluruh anggota keluarga dapat berkumpul bersama meski dalam kesederhanaan.

  2. Cerita Tentang Keluarga Penjual Tauwa
    Cerita tentang keluarga penjual tauwa ini berawal dari Pak Timan, seorang pedagang tauwa yang berdagang dengan sepeda dan menjajakan makanan olahan dari susu kedelai ini di pusat keramaian Kota Surabaya. Pak Timan adalah single parent karena istrinya telah lama meninggal. Pak Timan menghidupi dua anaknya, yakni Tiara yang sudah kelas 3 SMA dan Arman yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Saat subuh, Tiara selalu membantu ayahnya memasak tauwa. Bahkan, sebelum salat subuh, Tiara harus bangun untuk membantu ayahnya di dapur. Pernah suatu saat Tiara mengeluh kepada ayahnya, “Sudah belasan tahun ayah berjualan, tapi mengapa ekonomi kita tetap begini-begini terus ya, Yah? Nampaknya, Tuhan tak adil dengan kita.” Pak Timan langsung berhenti mengaduk susu kedelai dan menatap anak sulungnya dengan penuh kasih, “Kamu salah, Nak. Justru Tuhan sangat adil. Kita diberi makan sampai sekarang itu suatu mujizat. Bahkan, dengan penghasilan Ayah yang pas-pasan seperti ini, Ayah bisa menyekolahkanmu dan Arman. Oleh karena itu, belajarlah yang giat dan raihlah prestasi agar kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik dari Ayah.” Tiara merenungi perkataan ayahnya. Sedari kecil ia melihat perjuangan ayahnya yang sangat besar untuk menghidupi keluarganya. Sejak saat itu, Tiara pun merasa bahwa Tuhan itu sangat adil, karena Tuhan telah memberinya ayah sehebat ayahnya. 

  3. Cerita Tentang Keluarga Gadis Penjaga Loket Bioskop
    ‚ÄčNamaku Tamara. Sebagai lulusan SMA, mendapat pekerjaan sebagai penjaga loket di bioskop ternama memang sangat menyenangkan. Ketika aku sedang tak bertugas di depan pintu bioskop, aku berkesempatan untuk turut menyaksikan film baru yang sedang diputar. Gratis pula. Tapi, saat-saat aku sedang berdiri di ujung studio dan melihat film yang sedang diputar, aku teringat orang tua dan adikku yang belum pernah masuk dan menonton film di dalam bioskop. Dan hari ini aku bermaksud memberi surprise dengan mengajak keluarga nonton film di bioskop. Aku membeli 4 tiket untuk kami sekeluarga. Saat pekerjaanku sudah selesai, keluargaku datang ke tempatku bekerja. Aku bilang ingin mengajak mereka makan di luar dan meminta mereka untuk datang kemari agar kami bisa pergi bersama. Ketika orang tua dan adikku datang, aku langsung menggiring mereka masuk ke studio. Aku bisa melihat raut wajah mereka yang kebingungan, terutama ketika kami sudah menempati kursi di dalam studio. “Ra, kenapa ke sini? Katanya mau makan di luar?” Tanya ayahku. “Kak, ini pertama kali Adi masuk ke gedung bioskop! Adi besok bisa cerita dengan teman-teman,” kata adikku. Aku menatap mereka dengan penuh haru. “Ini kejutan dari Ara, Yah. Akhirnya kita bisa nonton film di layar yang besar dan tempat yang nyaman bersama-sama,” jawabku. Aku menatap raut bahagia di wajah ayah, ibu, dan adikku. Walaupun aku hanya seorang penjaga loket bioskop, itu tak jadi alasan untuk tidak membahagiakan keluargaku, bukan?


Cerita tentang keluarga kali ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa hidup dalam kondisi yang kekurangan bukan menjadi halangan dalam membahagiakan orang terkasih. Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap membahagiakan keluarga walau Anda dan keluarga hidup dalam keadaan yang sederhana.